Saturday, September 17, 2016

Telaah Kembali Eksistensi Alam Manusia - Saat zigot manusia berada di alam rahim, ia menempati ruang sebesar perut manusia. Di ruangan ini, ia hidup dari makanan sang ibu selama rata-rata sembilan bulan lebih. Begitu ia lahir sebagai manusia, ia memasuki alam dunia. Luasnya hanya sebesar langit pertama. Namun, ruang kehidupannya hanya ada di muka bumi. Tidak ada satu pun makhluk yang mampu memperkirakan usianya di alam dunia. Hanya saja, Allah telah memenuhi (baca: mewafatkan) semua rejeki, ujian, kebahagiaan, dan penderitanya saat ia beralih ke alam barzakh. Ternyata, alam barzakh ini berbeda jauh dengan alam dunia. Di alam dunia, manusia jahat dan baik bisa berkumpul dan bercampur, tetapi alam barzakh memisahkan antara kelompok manusia yang baik dan yang jahat; manusia yang beriman dan yang durhaka. Alam dunia merupakan tempat amal, sedangkan alam barzakh adalah awal dari pembalasan amal. Alam dunia memberikan keterbatasan kepada manusia pada area yang tampak (al-syahadah), namun alam barzakh justru memasukkan manusia pada area yang tersembunyi (al-ghaib), yakni kemampuan manusia di alam barzakh melihat manusia di dunia dan manusia di dunia tidak mampu melihat manusia di alam barzakh. Luasnya alam barzakh jauh berlipat ganda melebihi alam dunia. Begitu pula, masa alam barzakh telah menggunakan standar masa akhirat, yakni jauh lebih lama dibanding masa di alam dunia (fi yaumin kana miqdaruhu khomsina alfa sanah).

Tatkala Hari Kiamat tiba, alam akhirat pun telah dimulai. Luasnya sangat jauh melebihi luas alam barzakh. Hukum berlaku untuk setiap individu, sehingga tidak ada upaya saling membantu satu sama lain, kecuali manusia yang memegang keistimewaan syafaat. Di alam akhirat, kasih Allah hanya diberikan kepada orang-orang yang beriman dan taat kepada-Nya. Karena itu, siksaan Allah kepada orang-orang yang durhaka tanpa disertai dengan kasih sayang-Nya. Ini yang membedakan azab dunia dan azab akhirat. Alam akhirat juga tidak mengenal batasan waktu. Ini menjadi tujuan akhir dari kehidupan manusia. Alam akhirat tidak bisa dijangkau dengan akal manusia maupun filsafat eksatologis, melainkan melalui wahyu Ayat Al-Quran dan Hadits-hadits Nabi. Kehidupan akhirat pun disampaikan dengan bahasa yang amat jelas dan terasa sebagai ayat yang muhkam. Alam akhirat ini tidak hanya diimani, tetapi juga harus diyakini (wabil akhirotihum yuqinun).

Apabila alam akhirat ini ditanamkan melalui pengajaran yang panjang, niscaya tidak ada keberanian bagi manusia untuk berbuat kejahatan. Kurikulum agama yang sangat kecil di sekolah jarang membahas kehidupan akhirat dengan panjang. Jarang pula, pengajian agama di beberapa majelis taklim yang memperdalam kehidupan di alam akhirat. Sebagai ilustrasi, diskusi tentang kejujuran dan kepercayaan memberikan dampak yang kurang besar dibanding kajian tentang alam akhirat. Pendalaman tentang alam akhirat akan berdampak besar pada perubahan sikap dan tingkah laku bukan pada aspek kejujuran saja, melainkan pula semua aspek perilaku manusia.
Telaah Kembali Eksistensi Alam Manusia

0 comments :

Post a Comment