Monday, May 9, 2016

Teori Ketuhanan Versus Agnostic - Berawal dari sebuah status di wall facebook seorang saudara yang menurut penulis menarik untuk refleksi kehidupan kita. Belom nonton Civil War, ntar sore tapi langsung cabs bareng sepupu ke IMAX Gading. Tapi pada pagi buta ini. tiba-tiba gue menemukan arti Agnostik yang sebenarnya. Banyak yang mengartikan bahwa Agnostik adalah orang yang percaya akan adanya sang pencipta atau zat maha kuasa namun tak bisa membuktikan keberadaannya. makanya mereka cenderung skeptis terhadap agama yang ada. ada juga yang mengartikannya sebagai orang yang percaya Tuhan tapi tidak mau mengikuti dogma agama. Kalo kalian baca lagi. Pengertian Agnostik dalam termologi bahasanya, Agnostic terdiri dari 2 kata "A-" dan "-Gnostic".

"A-" sendiri semua sudah familiar yang artinya "Tanpa"/"WIthout"/"Negasi". Sedangkan "Gnostic" sendiri berartikan "Ilmu Mistis"/"Knowledge"/"Mystical Knowledge" jadi kalau digabung menjadi "Agnostic" yang bisa ditafsirkan sebagai "Tanpa Pengetahuan tentang Ketuhanan"
Untuk orang-orang yang sekarang masih memeluk agamanya masing-masing. dengan kesimpulan ini saya ingin bertanya kepada anda.

1. Apakah anda mengetahui siapa Tuhan anda?
2. Apakah anda mengenal betul Tuhan anda? 
3. Sebanyak apa yang telah anda ketahui tentang Tuhan anda?
4. Apakah anda tahu betul apa yang Tuhan anda inginkan dari anda?

(bedanya "tahu" dan "kenal" kalo saya tahu presiden Indo itu Jokowi, tapi saya gak kenal dia karena saya gapernah ketemu)

Jika salah satu dari pertanyaan diatas ada yang belum bisa anda jawab dengan pasti. berarti anda termasuk Agnostic. dan saya tidak ragu mendeklarasikan bahwa saya adalah seorang Agnostic, karena saya masih dalam tahap pencarian Tuhan itu sendiri. saya belum mengenal Tuhan saya dan saya tidak tahu apa-apa tentang Tuhan saya. Sekian racauan galau dari seorang pemuda yang mungkin tersesat dan tak tahu arah jalan pulang... aku tanpa-Mu, Butiran Debu.

Tuhan dalam pengertian kita menjadi “sesuatu” yang tertinggi karena menjadi sesembahan,  apapun itu agamanya, Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghuchu bahkan seorang atheis sekalipun tetap memiliki “sesembahan” entah itu harta, teknologi, akal pikiran, klub sepakbola, bahkan mungkin obat diare. 

Yang menjadi pertanyaan, apakah kita setia kepada “tuhan” kita.? Atau kita sudah murtad karena berpaling kepada tuhan yang lain.? Contoh, dalam Islam hanya menyembah kepada Allah SWT tentunya DIA menjadi yang tertinggi dalam sendi-sendi kehidupan kita. Ketika saya terserang diare (bahasa yang lebih halus dari mencret) maka segera terbersit untuk meminum obat mencret, tuhan segera dilupakan demi obat  yang harganya tidak lebih dari seribu rupiah, saya lupa harusnya sebelum memikirkan obat mencret  kembalikan dahulu masalah kepada yang tertinggi baru mencari obatnya, yang lebih bahaya lagi dengan yakinnya saya meyakini yang menyembuhkan mencret adalah obat A, saya lagi-lagi tertipu bahwa dengan adanya mencret adalah tanda adanya perut, adanya perut berarti ada yang menciptakannya. So, jadi bila ada pertanyaan apa sih tanda adanya tuhan..? Jawab saja, tanda adanya tuhan adalah adanya mencret. Udah ah, jadi ikut ngelantur kemana-mana, terima kasih kepada Radityo Akbar Prawiro untuk statusnya.
Teori Ketuhanan Versus Agnostic

0 comments :

Post a Comment