Thursday, May 12, 2016

40 Tahun Sebagai Fase Puncak KehidupanApa yang diharapkan dari orang yang telah memasuki masa senja. Ia mulai digerogoti aneka penyakit. Kecerdasannya mulai menurun meski gelarnya berderetan. Tenaga fisiknya sudah mulai rapuh. Wajahnya tidak lagi sedap untuk dillihat. Tanggungjawabnya makin banyak, karena ia tidak bisa menolak aneka status dan jabatan yang disematkan kepadanya. Namun, idealisme yang pernah disuarakan saat masih muda telah berubah menjadi pragmatisme.

Dahulu, Imam Syafi'i memegang tongkat saat usianya menginjak 40 tahun. Ia mulai tampil sebagai orang tua. Ijtihadnya yang berupa qoul qodim berganti menjadi qoul jadid. Sang Imam ingin pindah ke daerah Mesir yang penuh ketenangan dibandingkan Baghdad yang penuh pergolakan politik. Di usia 53, Imam Syafi'i wafat di Mesir. Demikian pula, Imam al-Ghazali yang mulai meninggalkan aneka kebanggaan akademik di Nizhamiyyah saat usianya menginjak senja. Ia berkelana bertahun-tahun hingga menemukan tempat yang tenang di masjid Damaskus. Di tempat ini, ia menuliskan hasil spiritualitasnya berupa karya yang monumental: Ihya' 'Ulumuddin.

Dahulu, para kyai pun mulai menggunakan jubah dan surban tatkala usianya mulai senja. Sebelumnya, penampilannya nyaris sama dengan kebanyakan masyarakatnya. Jika ia putra seorang ulama, panggilannya mulai berubah: dari Gus menjadi Kyai. Jika ia dari kalangan masyarakat biasa, ia mulai dipanggil kyai yang semula dipanggil ustadz. Kini, ada beberapa ustadz muda mulai berpenampilan seperti kyai. Sebaliknya, beberapa kyai yang sudah tua masih berpenampilan nyentrik seperti anak muda. 


Al-Qur'an telah mengajarkan, bahwa usia 40 adalah fase spiritualitas. Daya spiritualitas dioptimalkan daripada daya intelektualitasnya. Karena itu, benturan pemikiran antara intelektual muda dan tua selalu terjadi di dunia akademik.

40 Tahun Sebagai Fase Puncak Kehidupan

0 comments :

Post a Comment