Saturday, April 18, 2015

Santri Itu Ngemong Bukan (Cuma) Ngomong - Kitab-kitab yang dikaji para kyai besar ternyata tipis-tipis. Ada yang dikaji berulang-ulang, seperti KH Hasyim Asy'ari yang mengkhatamkan Jurumiyyah delapan kali. Jadi, para kyai enggan memperdebatkan ilmu agama, melainkan suka memahamkan agama dengan memahami masyarakatnya. Pendidikan pesantren pun banyak berkaitan dengan kemasyarakatan, seperti ngliwet bersama, roan, khataman, tahlilan, jam'iyyah, jama'ah, riyadlohan, dll. Semuanya disiapkan agar santri siap dan mampu melayani (ngemong) masyarakat. Karenanya, kaum santri tidak serta merta memberi vonis jahat kepada para pendosa, tidak meremehkan orang awam, serta mampu melebur bersama mereka, hingga timbul kesadaran dari mereka. KH Kholiq Hasyim suka melebur dengan para penjudi untuk diberi kesadaran, KH Muslim Imampuro suka minum kopi bersama para petani, dsb. Agar tidak tampak elit, atribut kaum santri pun sangat sederhana: sarung.
Santri yang alim terkadang tampak sebagai orang bodoh, enggan menampilkan keilmuannya. Ia suka menghindari diskusi agama. Ia baru mau berdiskusi bila lawannya juga alim dan dalam forum empat mata. Kitab-kitab besar tetap dibaca sebagai pencarian berkah, bukan untuk pertunjukan akademik. Jadi, santri alumni pesantren berbeda dengan sarjana perguruan tinggi. Santri diarahkan 'pinter ngemong', sementara sarjana dilatih 'pinter ngomong'.

Courtesy of Bambang Subandi's Status on facebook
Santri Itu Ngemong Bukan (Cuma) Ngomong

0 comments :

Post a Comment