Saturday, April 18, 2015

Belajar Nahwu Shorof Di Pesantren Tebuireng - "Ayo siapa yang telah hafal Alfiyah akan aku beri ijazah", tantang Kyai Syairozi saat aku kelas II MTs. Setelah menghafal Jurumiyyah dan 'Imrithi, aku semangat mengahafal Alfiyah. Namun, saat lulus MTs aku hanya menghafal sekitar 600 bait. Di Aliyah aku melanjutkan hafalan hingga khatam saat kelas II. Aku bingung kepada siapa aku menyetorkannya, karena aku sungkan dg para ustad, takut dianggap sok. Suatu malam di makam KH Hasyim Asy'ari, Kyai M. Nuh Abdullah, salah satu murid Kyai Idris Kamali, berkenan menyimak hafalanku semalam suntuk. "Sudah barokah", kata terakhirnya kepadaku. Setelah itu, setelah subuh aku mengikuti pengajian Dahlan Alfiyah yang dijelaskan oleh Kyai Kamuli Chudlori, juga salah satu murid Kyai Idris Kamali. Konon, Kyai Idris hanya mau mengajar fathul qorib kpd santri yg hafal Taqrib dan mengajar Ibnu Aqil kpd santri yg hafal Alfiyah.
Tak lupa, Ustad Romli yang membimbingku untuk mengahafal dan mengajarkan Jurumiyah ketika awal mondok setelah subuh
Ustad Syuhada' Syarkun yang mengajarkan Mutammimmah selama dua tahun seraya mengahafal Imrithi
Ustad Sa"dul Affan yang memperkenalkan mengajarkan dan menyuruh hafalan amtsilah dan ilmu Shorof saat jam belajar
Kyai Sukarto Faqih yang memerintahkan hafalan kaedah I'lal.


Belajar Nahwu Shorof Di Pesantren Tebuireng

Tradisi pesantren tidak melihat kecerdasan maupun kepintaran melainkan ketekunan kesederhanaan dan rendah hati. Pendidikan modern akan meremehkan sistem hafalan di atas karena dinilai kurang efektif dan efisien. Kurang mencerdaskan. Saya hendak mengatakan sistem hafalan tersebut telah luntur di pesantren Tebuireng saat ini, sekalipun ada sekolah khusus agama atau Mu'alimin enam tahun.
Sumber status Bambang Subandi on facebook.

0 comments :

Post a Comment