Tuesday, April 8, 2014

Mekanisme Ekonomi Pasar Dalam Islam (Historical Review) - Tulisan ini bertujuan untuk berbagi tentang studi dan analisis mengenai konsep mekanisme pasar dalam pandangan islam. Alasan untuk memilih topik ini diambil berdasarkan pemikiran yang dikaji dan dikembangkan para sarjana islam serta berangkat juga dari pernyataan Joseph Schumpeter dalam karya besarnya yang berjudul The History of Economic Analysis. Menurutnya : "As regards the theory of the mechanism of pricing there is very little to report before the middle of the eighteenth century...".

Ada cukup banyak alasan untuk mempercayai bahwa para ilmuwan dan ahli muslim telah mengembangkan pemikirannya mengenai ilmu pengetahuan, peradaban, filsafat, bisnis, perdagangan dan industri pada sekitar abad pertengahan dan banyak juga yang melakukan pengembangan filsafat dan gagasan yunani kuno yang hasilnya terus berkembang hingga sekarang. Temuan tersebut harus didiskusikan dan dianalisis terutama yang berkaitan dengan masalah dan isu-isu ekonomi sebagaimana yang dihadapi saat ini, seperti dalam produksi, distribusi, formasi pasar dan penentuan harga. Hal yang tidak menguntungkan adalah bahwa ide-ide mereka itu belum dapat diekplorasi secara lebih luas. Oleh karena itu, merupakan tugas para cendikiawan muslim untuk terus menggali dan memunculkan ke permukaan, sehingga menjadi bahan kajian yang menarik seiring dengan semakin maraknya kajian mengenai ekonomi Islam.

Konsep Harga Awal Abad Ke-18 Sesudah Masehi

Seorang Sarjana Muslim yang pertama kali menulis mekanisme pasar dan harga, dengan bahasan yang sangat rinci dan canggih adalah Abu Yusuf (731-798 AD). Tulisan pertamanya menguraikan tentang naik dan turunnya produksi yang dapat mempengaruhi harga. Dialah yang pertama kali berbicara atau mengajukan teori mengenai jumlah permintaan dan persediaan (demand and Supply) dan pengaruhnya terhadap harga. Abu Yusuf mengatakan bahwa : "there is no define limit of cheapness and expensiveness that can be ascertained. It is a matter decided from heaven, the principle is unknown. Cheapness is not due to abundance of food, nor expensiveness due to scarcity. They are subjected to the command and decision of god. Sometimes food is plentifulbut still very dear and sometimes it is too little but it is cheap".

Pandangan di atas menunjukan adanya hubungan negatif antara persediaan (supply) dan harga. Hal ini adalah benar bahwa harga itu tidak tegantung pada supply itu sendiri - hal sama pentingnya adalah kekuatan permintaan. Oleh karena itu bertambah dan berkurangnya harga semata-mata tidak berhubungan dengan bertambah atau berkurangnya dalam produksi.

Ada  beberapa alasan lain yang juga mempengaruhi, namun dia gagal menjelaskan secara tuntas. Apakah alasan lain itu? apa yang ada dalam pikirannya?Mungkin perubahan permintaan, atau persediaan atau peredaran uang dalam negara yang bersangkutan atau terjadinya hoarding dan hiding atas barang atau semua hal tersebut..???

Berbeda dengan pandangan saat itu yang beranggapan bila tersedia sedikit barang maka harga akan mahal dan sebaliknya. Abu Yusuf mengatakan : " Tidak ada batasan tertentu tentang murah dan mahal yang dapat di pastikan. Hal tersebut ada yang mengaturnya. Prinsipnya tidak bisa di ketahui. Murah bukan karena melimpah-ruahnya makanan, demikian juga mahal tidak disebabkan karena kelangkaan makanan. Murah dan mahal merupakan ketentuan dari Allah SWT, kadang-kadang makanan (relatif) sangat sedikit tapi murah".

Abu Yusuf tampaknya menyangkal pendapat umum mengenai hubungan terbalik antara penawaran dan harga. Pada kenyataannya harga memang tidak tergantung pada penawaran saja tetapi juga bergantung pada kekuatan permintaan. Bahwa ada beberapa variabel lain yang mempengaruhi, tetapi dia tidak menjelaskan secara spesifik dan lebih rinci. Bisa jadi variabel itu pergeseran dalam permintaan atau jumlah uang yang beredar di suatu negara atau penimbunan dan penahanan barang. Dalam pandangan Muhammad Nejatullah Siddiqi dikatakan : "Abu Yusuf's remark should be taken to be a statement of something he observed: the possible coexistence of abundance and high prices and of scarcity and low price. Abu Yusuf dealt with the issue of grain prices incidentalywhile arguingin favor of proportionate taxes as againts a fixed rent on land. He was not discussing price determination ad such, so he could not relate the phenomenon he observed to changes in supply of money. His remark does not amount to a denial of the role of demand and supply in the determination of price".

Mekanisme Ekonomi Pasar Dalam Islam (Historical Review)
Oleh karena Abu yusuf tidak membahas lebih rinci apa yang disebutkannya sebagai variabel lain, ia tidak mengkoneksikan fenomena yang di observasinya terhadap perusahaan dan penawaran uang. Namun, kenyataannya tidak menyangkal pengaruh dari permintaan dan penawaran dalam penentuan harga. Pernyataan tersebut harus di terima sebagai hasil pengamatannya saat itu, yakni keberadaan yang sama antara melimpahnya barang dan tingginya harga  serta kelangkaan barang dan harga rendah. Semoga tulisan diatas menjadi bahan pemicu kita untuk terus melakukan riset-riset ekonomi yang bermanfaat sehingga dapat menghasilkan sebuah teory baru ekonomi yang terus melaju pesat dengan berbagai hingar bingar dan hiruk pikuknya. :-).



0 comments :

Post a Comment