Tuesday, April 8, 2014

Kemiskinan Dan Filsafat Ekonomi Islam ( Article of Islamic Economics Philosophy) - Dalam merespon fenomena kemiskinan umat Islam, minimal ada empat kelompok pemikiran besar yang muncul. yaitu kelompok tradisionalis, modernis, revivalis serta tranformatif. Kelompok tradisionalis adalah kelompok yang mempercayai bahwa kemiskinan yang di derita umat Islam adalah sebagai takdir Allah. Kelompok ini seolah mengamalkan teologi jabariyah atau teologi Asy'ari yang salah faham, yakni sifat berserah kepada Allah SWT yang berlebihan. Akibat dari sikap berserah yang berlebihan dan kurang usaha merubah nasib. Teologi Asy'ari adalah teologi yang mengajarkan usaha maksimal untuk mencapai cita-cita, dimana disebutkan bahwa manusia memiliki kesempatan untuk mengubah nasib, dengan konsep kasab namun tetap mengakui kekuasaan mutlak Allah. Karena itu, konsep Ash'ari sifat berserah tersebut muncul setelah usaha maksimal dilakukan. Apabila sudah berusaha maksimal serahkanlah hasil akhirnya kepada Allah.

Kelompok modernis adalah mereka yang mempercayai bahwa kemiskinan yang diderita oleh umat Islam adalah akibat dari adanya kesalahan teologi atau mentalitas umat. Dengan demikian dapat di katakan bahwa munculnya gerakan modernis merupakan jawaban -respone- terhadap kelompok tradisionalis. Adapun cara merubahnya adalah dengan cara mengubah mentalnya (teologi). Gerakan ini misalnya di lakukan oleh golongan Mu'tazilah, gerakan Muhammad Abduh di Mesir, Attatuk di Turki. Di Indonesia gerakan cara kerja kelompok modernis agak di modifikasi dengan jalan mengubah kebiasaan-kebiasaan bid'ah, khurafat dan semacamnya. Sebab menurut mereka, tradisi-tradisi semacam ini yang menjadi penyebab miskinnya umat Islam.

Adapun menurut revivalis atau sering juga di sebut fundamentalis mempercayai bahwa kemiskinan umat Islam adalah efek sistem ekonomi muslim yang tidak sejalan dengan ajaran al-Qur'an dan Sunnah. Islam telah menyediakan norma hidup dalam segala bidang kehidupan termasuk ekonomi. Maka jalan keluar agar umat Islam dapat berjaya dan sejahtera adalah dengan kembali kepada al-Qur'an dan Sunnah secara mutlak.

Kelompok tranformatif mereka meyakini bahwa kemiskinan yang di derita umat muslim adalah akibat dari ketidakadilan sistem ekonomi. Tujuan golongan ini adalah mentranformasikan struktur yang ada, dengan menciptakan tatanan yang lebih baik dalam aspek perekonomian, yaitu suatu proses penghapusan ketidakadilan dalam ekploitasi ekonomi. Dasar usaha transformatif ini adalah keyakinan bahwa Islam di fahami sebagai agama keadilan, pembebasan dari sistem oppressive dan eksploitatif. Dengan kata lain, kemiskinan yang di derita akibat ulah sistem ekonomi yang tidak mendukung ekonomi berkeadilan. Sayangnya, sampai sekarang belum mampu mengubah sistem ekonomi yang ada, bahkan dapat dikatakan belum mampu merumuskan konsep-konsep atau teori-teori jitu yang berkeadilan dan sesuai dengan tuntutan kekinian. Akibatnya sistem ekonomi Islam belum mampu bertarung dengan sistem ekonomi global.

Filsafat Ekonomi Islam ( Islamic Economics Philosophy)

Untuk menentukan konsep filsafat ekonomi islam, ada problem metodologi yang di hadapi para ahli. Sebab dapat di sebut bahwa hampir seluruh sejarah keilmuan hukum islam menggunakan pendekatan deductive-normative atau deductive-doctriner yakni cara berfikir hitam-putih, halal-haram dan sejenisnya. Hasil temuan studi hukum Islam dengan pendekatan ini adalah kaku dan tidak/kurang dapat menyesuaikan dengan perubahan dan perkembangan zaman dan masyarakat. Padahal persoalan-persoalan yang masuk wilayah ekonomi Islam adalah problematika umat manusia yang demikian cepat berubah dan berkembang sesuai dengan dan mengiringi perubahan dan perkembangan ilmu, teknologi dan masyarakat itu sendiri. Lebih dari itu boleh dikatakan bahwa salah satu penyebab kegagalan ekonomi Islam selama ini adalah kegagalannya merespon kebutuhan-kebutuhan global sebagai akibat dari perubahan dan perkembangan masyarakat.

Memang dalam sejarah studi hukum islam di kenal dua pendekatan pokok, yakni pendekatan deduktif-normatif atau disebut juga normative approach ialah metode yang di gunakan untuk memahami maksud nash. Kedua, pendekatan empiris-inductive, satu pendekatan yang digunakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan nyata masyarakat (real/empiris/praktis).

Penamaan institusi Islam atau bukan kurang tepat untuk mengukur atau membedakan "Islami" atau "tidak islami"-nya suatu  institusi. maka meskipun misalnya ada dua institusi yang menggunakan nama yang berbeda, dimana salah satu menggunakan nama islam sementara yang lain tidak menggunakannya, kalau norma substansi praktek yang di gunakan sama maka status hukum keduanya adalah tidak berbeda menurut tinjauan filasafat ekonomi islam. Hal ini perlu ditekankan untuk mengantisipasi kritik dan sekaligus kesimpulan studi Abdullag Saeed di sejumlah bank islam, yang ternyata menurut penelitian ini bank-bank Syari'ah Islam hanya dapat menyatakan bank Islam (fikih konvensional) tetapi dalam praktek khususnya di bidang manajerial tidak sejalan dengan konsep islam tersebut. Dengan ungkapan lain, ada ketidakcocokan antara teori yang di gembar-gemborkan dengan praktek di lapangan. Sebab munculnya sejumlah bank Islam/Syari'ah pada satu sisi menjadi kebanggaan kaum muslimin, tetapi di sisi lain adalah juga sebagai tantangan. Sebab ada kekhawatiran label yang ada di lembaga-lembaga shari'ah tersebut tidak sesuai dengan filsafat ekonomi islam.

So.... filsafat ekonomi islam adalah cita-cita ekonomi islam, yakni terciptanya sistem ekonomi yang yang menjamin keadilan dan kesamaan kesempatan bagi masing-masing individu untuk melakukan kegiatan ekonomi.
Kemiskinan Dan Filsafat Ekonomi Islam ( Article of Islamic Economics Philosophy)

0 comments :

Post a Comment