Saturday, January 11, 2014

Tehnik Quick Count pada pemilihan umum untuk memilih mulai dari Presiden, Anggota Legislatif, Partai pemenang pemilu bahkan sampai pemilihan kepala daerah (PILKADA) sering kali digunakan hanya saja bagaimana dan seperti apa tehniknya..?? Quick Count adalah sebuah metode verifikasi hasil pemilihan umum (pemilu), yang data-datanya diperoleh dari sampel di lapangan. Tentu saja berbeda dengan teknologi berupa pooling, sampel tidak lagi diperoleh dari para responden (responder) yang ditanyai satu per satu, melainkan diperoleh dari hasil rekap resmi di lapangan.
Lalu, sebetulnya apa saja teknologi yang paling sering digunakan untuk menopang kesuksesan sebuah penghitungan Quick Count? Dalam hal ini tergantung masing-masing lembaga penghitung. Teknologi Short Message Service (SMS) ternyata cukup populer digunakan oleh lembaga-lembaga penghitung Quick Count.
Sekedar bahan tambahan, dahulu teknologi ini bukanlah bernama Quick Count, akan tetapi bernama Paralel Vote Tabulation atau tabulasi suara pemilih secara paralel. Bagaimana cara memanfaatkan teknologi Quick Count ini untuk diaplikasikan di lapangan? Berikut ini adalah cara kerja Quick Count yang umum dilakukan oleh para lembaga survei:
1. Mempersiapkan berbagai macam perangkat serta sistem pendukung untuk bisa memberikan data-data yang dibutuhkan secara cepat ke pusat pengolah data (server) lembaga survei yang melakukan metode Quick Count ini. Pelbagai perangkat ini mulai dari komputer untuk meng-input-kan data hingga ponsel untuk mengirim SMS hasil pemilu ke server tempat menerima data.
2. Pemilihan TPS-TPS sebagai tempat pengambilan data. TPS yang di ambil secara random atau acak berdasarkan beberapa pertimbangan diantaranya adalah: jumlah penduduk, jumlah pemilih terbaru, penyebarannya pemilih seperti tersebar dalam berapa kelurahan, dan sebagainya. Singkatnya adalah, proporsional kalau pemilih banyak lokasi sampel (TPS) yang diambil pun banyak serta mewakili karakteristik populasi.
3. Mempersiapkan relawan untuk mengambil sampel dan meng-input-kannya ke sistem data. Jumlah relawan ini cukup banyak untuk mengambil data dari TPS yang telah dipilih.
4. Data yang telah didapat akan diolah di pusat data dengan menerapan ilmu stasistik, dari olahan data inilah lembaga survei bisa menghitung secara cepat siapa pemenang pemilu.
Jika kita lihat dari cara kerja Quick Count, kita dapat mengartikan bahwa hasil perhitungan Quick Count bukanlah hasil perhitungan dari seluruh TPS yang melakukan pemungutan suara, melainkan dengan menggunakan prinsip-prinsip ilmu statistika.
Jadi kesimpulannya, lembaga survei yang menyelenggarakan Quick Count ini hanya mengambil sampel dari sekian banyak TPS yang ada dan diambil dari TPS yang memiliki jumlah populasi yang banyak dan berbagi pertimbangan lainnya.
Walaupun hasil Quick Count ini tidak pernah tepat dan pasti, tetapi hasil dari Quick Count (yang diselenggarakan oleh lembaga survei yang capable dan jujur) tidak pernah meleset dari siapa yang memenangkan dari pemilihan umum tersebut.
Source : dari berbabai sumber yang diolah dan ditulis kembali.



0 comments :

Post a Comment